MENYIBAK SASTRA FEMINISME KEKINIAN: SUATU KAJIAN KRITIK SASTRA HERMENEUTIK
Abstract
Fenomena perempuan dalam tradisi kekinian sudah menjadi sebuah kultur. Eksistensi perempuan sudah seolah-olah sudah menjadi kebiasaan yang plural dan majemuk. Dilihat dari sudut hierarki peradaban, pengarang perempuan sudah banyak yang menyimpang dari sudut olah rasa, yakni menjamurnya ketidakseimbangan antara imajinasi dengan emosional. Hal ini mengakibatkan pengarang perempuan tidak mementingkan kulmulasi dalam mengimajinasikan
kata-kata sebagai energi. Pengarang perempun bergelimut pada kekuatan perasaan yang ingin digoreskan secara indefendensial antara apa yang dirasakan
dan imajinasinya. Selain itu, kekuatan di balik sastra masih tersimpan pada pengarangnya, tidak sampai pada pembaca, mengakibatkan tingkat klimaks
sebuah cerita itu tidak mengandung emulsi sastranya. Masalah inilah yang menjadi titik keambiguan pengarang sastra itu yang perlu dikaji secara mendalam
dan mendasar. Salah satu pendekatan yang dianggap mumpuni sebagai alternatif untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah pendekatan hermenutik.
Pendekatan hermenutik menafsirkan bukan hanya kulit-kulit sastra, melainkan memahami secara mendalam. Pengajaran sastra melalui pendekatan hermenutika berfokus pada siswa agar mampu menggali nilai-nilai dengan menafsirkan teks sastra secara mendalam. Siswa tidak hanya mengetahui saja nilai intrinsik dan ekstrinsik sastra itu, tetapi mendalami bobot sastra itu, menafsirkan hubungan pengarang dengan konten sastra, hubungan latar belakang pengarang dengan teks sastra, dan pengaruh teks sastra terhadap kehidupan sehari-hari sebagai kontemplasi.





